JMNpost.com | Aceh Timur — Konflik antara masyarakat tani dan perusahaan perkebunan PT Bumi Flora kembali menjadi perhatian. Insiden yang terjadi pada Jumat, 7 Agustus 2026, bahkan disebut berujung pada seorang karyawan perusahaan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Menyikapi kejadian tersebut, Asnawi, putra asli Kecamatan Banda Alam yang juga mantan anggota DPRK Aceh Timur, mengaku prihatin sekaligus menyayangkan konflik yang kembali melibatkan masyarakat tani dan pihak perusahaan.
Menurut Asnawi, persoalan antara masyarakat tani dan perusahaan seharusnya tidak dibiarkan berlarut-larut. Ia mendorong pihak PT Bumi Flora untuk membuka ruang dialog secara langsung dengan para ketua serikat tani guna mengetahui secara jelas tuntutan maupun persoalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
“Alangkah baiknya pihak perusahaan memanggil ketua-ketua serikat tani, duduk bersama, kemudian mempertanyakan apa sebenarnya permintaan masyarakat tani selama ini,” ujar Asnawi.
Ia menilai penyelesaian persoalan tersebut tidak semestinya hanya menunggu intervensi pemerintah atau instansi lain. Menurutnya, pemerintah memang memiliki kewenangan dalam aspek administrasi dan pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku, namun hubungan langsung antara perusahaan dan masyarakat yang berkonflik juga perlu diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah.
Asnawi mengingatkan, jika persoalan tersebut tidak segera dicari jalan keluarnya, ia khawatir konflik dapat kembali memanas dan berpotensi menimbulkan korban berikutnya.
“Kalau tidak diselesaikan secepat mungkin antara perusahaan dengan serikat tani, saya takut persoalan ini tidak akan aman. Jangan sampai nanti ada lagi korban dalam persoalan ini,” katanya.
Ia pun meminta pihak perusahaan untuk lebih membuka hati terhadap kondisi masyarakat yang selama ini memperjuangkan kepentingannya.
“Kasihanilah rakyat. Apalagi kita sesama orang Islam, satu bangsa Aceh dan satu bahasa. Pihak perusahaan juga tidak akan senang kalau rakyat kecil menderita,” ucapnya.
Di sisi lain, Asnawi juga mengingatkan masyarakat tani agar tidak mengambil langkah-langkah yang dapat memperkeruh keadaan. Menurutnya, sebesar apa pun persoalan yang dihadapi, penyelesaian melalui dialog dan musyawarah tetap harus dikedepankan.
“Walaupun masyarakat itu orang miskin, bukan berarti mereka ingin mencari kesusahan. Kita semua hidup tidak lama dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya,” tutur Asnawi.
Asnawi berharap insiden yang terjadi pada 7 Agustus tersebut menjadi momentum bagi kedua pihak untuk membuka kembali ruang komunikasi. Ia meminta perusahaan dan perwakilan masyarakat tani tidak menunggu konflik berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Ia juga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat menjalankan fungsi pengawasan serta memfasilitasi penyelesaian apabila diperlukan, sehingga persoalan antara masyarakat dan perusahaan dapat ditempatkan pada mekanisme hukum dan musyawarah yang semestinya.

Post a Comment