Jembatan Rusak, Akses Sekolah Terancam: Warga Manerampak Bangun Jembatan Darurat dengan Swadaya

JMNpost.com | Aceh Timur — Kerusakan jembatan penghubung Gampong Manerampak dan Gampong Lhok Rambong, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, belum juga berujung pada pembangunan permanen. Hampir sembilan bulan setelah jembatan tersebut patah diterjang derasnya arus sungai saat banjir pada 25 November 2025, masyarakat masih harus mengandalkan akses darurat hasil gotong royong mereka sendiri.

Kondisi itu mendorong puluhan warga Gampong Manerampak turun tangan membangun jembatan darurat secara swadaya. Langkah tersebut dilakukan karena akses jembatan dinilai terlalu vital untuk dibiarkan terputus, terutama bagi warga Dusun Paya Seuke yang menggunakan jalur tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Keuchik Gampong Manerampak, Badruzzaman, mengatakan pembangunan jembatan darurat terpaksa dilakukan agar masyarakat tetap memiliki akses menuju pusat pemerintahan desa maupun wilayah lainnya.

“Jembatan ini merupakan akses penting bagi warga Dusun Paya Seuke menuju pusat pemerintahan desa. Selain itu, jembatan ini juga menjadi satu-satunya akses bagi anak PAUD, pelajar SD, SMP hingga SMA untuk menuju sekolah mereka, sekaligus menjadi penghubung menuju Gampong Lhok Rambong,” ujar Badruzzaman kepada awak media, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, masyarakat membangun jembatan tersebut dengan semangat gotong royong. Sebagian material juga diperoleh dari swadaya warga.

Namun, jembatan darurat itu bukan solusi jangka panjang. Badruzzaman memperkirakan konstruksi sementara tersebut hanya mampu bertahan sekitar tiga hingga empat bulan.

“Secara bergotong royong kami membangun jembatan darurat ini. Kemungkinan jembatan ini hanya mampu bertahan sekitar tiga sampai empat bulan. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah dan berbagai pihak agar jembatan ini dapat kembali dibangun secara permanen,” harapnya.

Kondisi tersebut sekaligus menggambarkan betapa pentingnya jembatan bagi mobilitas masyarakat. Bukan hanya menjadi jalur penghubung antargampong, akses tersebut juga digunakan anak-anak untuk bersekolah serta masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi dan pemerintahan.

Salah seorang warga, Ajad, berharap pemerintah dan pihak terkait tidak menunggu sampai jembatan darurat kembali rusak sebelum mengambil langkah.

“Kami berharap ada kepedulian dari berbagai pihak untuk membangun kembali jembatan ini. Jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat karena menjadi akses utama aktivitas sehari-hari,” pintanya.

Warga berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan. Mereka khawatir jika jembatan darurat yang dibangun dengan keterbatasan kemampuan masyarakat kembali rusak, akses warga akan kembali terganggu.

Di tengah kondisi tersebut, warga telah menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap jembatan itu bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan kebutuhan dasar untuk memastikan aktivitas masyarakat dan akses pendidikan anak-anak tetap berjalan.

Kini, perhatian pemerintah dan pihak terkait menjadi harapan warga agar jembatan yang sebelumnya mereka bangun dengan swadaya tidak sekadar menjadi solusi sementara, tetapi benar-benar dilanjutkan dengan pembangunan yang permanen dan layak.

(*)

Post a Comment

Previous Post Next Post