Opini:
Ditulis Oleh: Mahdi
Di tengah riuhnya tuduhan, bantahan, klarifikasi, hingga gelombang pembelaan yang terus berseliweran di media sosial, masyarakat perlahan mulai terbelah dalam dua kubu. Ada yang berdiri membela pejabat yang mereka hormati. Ada pula yang berdiri di belakang pihak pelapor karena merasa sedang memperjuangkan kebenaran.
Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan penting yang jarang diajukan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar mengetahui seluruh kebenaran?
Dalam ajaran agama, membela seseorang bukanlah hal yang salah. Bahkan menjaga kehormatan saudara sesama muslim termasuk perbuatan mulia. Tetapi agama juga mengingatkan bahwa loyalitas tidak boleh membuat manusia kehilangan kejujuran dan akal sehat.
Tidak sedikit orang yang membela karena kedekatan, rasa hormat, hubungan politik, ataupun keyakinan pribadi bahwa tokoh yang dibelanya adalah orang baik. Itu manusiawi. Namun masalah muncul ketika pembelaan berubah menjadi serangan kepada pihak lain, menghina, mencaci, bahkan ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Begitu pula sebaliknya. Mendukung pihak pelapor juga bukan berarti bebas menghakimi. Tidak semua cerita yang viral otomatis menjadi fakta. Tidak semua yang ramai di media sosial adalah kebenaran yang utuh. Dalam Islam, fitnah bahkan disebut lebih kejam daripada pembunuhan. Karena sekali nama seseorang rusak di mata publik, luka itu bisa bertahan jauh lebih lama dibanding keributan itu sendiri.
Orang tua di Aceh sejak dulu sudah meninggalkan nasihat sederhana: “Leumo Grop Paya, Guda Cot Iku.” Kurang lebih maknanya, jangan mudah ikut-ikutan dalam sesuatu yang belum diketahui secara pasti. Jangan karena ramai orang berbicara, lalu kita ikut menyeret diri ke dalam arus yang belum tentu benar arahnya.
Apalagi perkara seperti ini bukan persoalan kecil. Ini bukan sekadar bahan perdebatan politik atau hiburan media sosial. Ini menyangkut rumah tangga, nama baik, anak-anak, keluarga, dan hati manusia yang bisa hancur perlahan karena terus dipanaskan oleh opini publik.
Semakin banyak orang saling menyerang, semakin besar pula kemungkinan ada hati yang sedang terzalimi. Dan terkadang, orang yang paling menderita justru bukan mereka yang ramai berbicara di depan kamera, melainkan keluarga yang diam menanggung malu dan luka.
Karena itulah, dalam perkara yang belum terang, agama mengajarkan kehati-hatian. Menjaga lisan. Menahan jari. Tidak tergesa menyimpulkan sesuatu hanya karena mendengar sepihak cerita.
Hari ini banyak orang sibuk menjadi pembela, tetapi lupa menjadi penyejuk. Banyak yang berani berbicara, tetapi sedikit yang berani berkata: “Saya belum tahu fakta sebenarnya.”
Padahal kalimat itu justru menunjukkan kedewasaan.
Di tengah suasana yang semakin panas, muncul pula ajakan sumpah mubahalah di hadapan para alim ulama. Bagi sebagian orang, itu dianggap jalan terakhir untuk mencari keyakinan. Namun sumpah dalam agama bukan perkara ringan. Ia bukan panggung untuk mencari tepuk tangan publik, bukan pula alat memenangkan opini.
Sumpah adalah urusan manusia dengan Tuhan.
Karena itu, siapa pun yang berbicara, menuduh, membela, atau menyebarkan sesuatu, harus sadar bahwa semua ucapan akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Dalam situasi seperti ini, aparat penegak hukum juga memikul tanggung jawab moral yang besar. Polisi, jaksa, hingga hakim bukan hanya bekerja di bawah aturan negara, tetapi juga berada di bawah pengawasan hati nurani dan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Sebab keputusan yang lahir dari ketidakjujuran, keberpihakan, atau tekanan kekuasaan dapat melukai keadilan dan menghancurkan kepercayaan masyarakat.
Jabatan bisa berakhir. Kekuasaan bisa berganti. Tetapi dosa karena menutupi kebenaran atau menghukum orang tanpa keadilan adalah beban yang tidak ringan.
Karena itu, siapa pun yang memeriksa perkara seperti ini harus tetap berdiri di jalan yang benar. Jangan karena tekanan massa, kedekatan, jabatan, ataupun pengaruh politik, hati menjadi goyah dari kejujuran. Sebab ketika hukum kehilangan keadilan, masyarakat akan mencari jalan lain untuk mempercayai kebenaran.
Kepada para pendukung pihak mana pun, mungkin saat ini kita tidak mengetahui seluruh fakta yang sebenarnya. Maka jangan sampai semangat membela membuat kita ikut terjerumus pada kebencian dan fitnah. Jangan terlalu jauh membela sesuatu yang belum diketahui secara pasti, apalagi sampai menyerang atau merendahkan pihak lain.
Karena bisa jadi, hari ini kita merasa sedang membela kebenaran, padahal sesungguhnya kita hanya sedang membela kedekatan, kekuasaan, atau perasaan pribadi.
Dan kepada pihak yang menuduh, agama juga mengingatkan agar tidak bermain-main dengan tuduhan. Jika benar, sampaikan dengan cara yang bermartabat. Jika belum pasti, jangan menjadikan prasangka sebagai senjata.
Aceh adalah negeri yang menjunjung agama islam dan adat. Karena itu masyarakatnya diharapkan mampu menghadapi persoalan dengan kepala dingin, bukan dengan saling menghancurkan di ruang publik.
Pada akhirnya, manusia boleh membela siapa saja. Tetapi kebenaran tidak akan pernah berubah hanya karena ramai dibela atau ramai ditolak.
Dan jika suatu hari semuanya benar-benar terbuka, semoga kita tidak termasuk orang yang menyesal karena pernah terlalu cepat menghakimi.
Post a Comment