Tanpa Label Nasional, Aceh Hadapi Banjir dengan Kekuatan Sendiri



JMNpost.com | Aceh, - Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Konsekuensinya jelas, masyarakat Aceh pun memilih tidak terlalu berharap pada bantuan besar dari pemerintah pusat dan lebih mengandalkan kekuatan sendiri untuk bertahan di tengah musibah.

Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman warga di berbagai kabupaten dan kota. Rumah terendam, jalan terputus, aktivitas ekonomi terhenti, dan ribuan warga harus mengungsi. Namun, di tengah kondisi itu, kehidupan tetap berjalan dengan cara Aceh sendiri: saling membantu tanpa banyak menunggu.

Ketika status bencana nasional tidak kunjung disematkan, solidaritas masyarakat justru bergerak lebih cepat. Warga saling mengevakuasi, berbagi makanan, membuka dapur umum seadanya, hingga membersihkan lumpur secara gotong royong. Bantuan datang dari tetangga, saudara, relawan, dan komunitas lokal, bukan dari janji-janji yang terlalu tinggi untuk ditunggu.

Di sejumlah daerah, masyarakat yang rumahnya ikut terendam tetap menyisihkan apa yang mereka punya untuk membantu korban lain. Bagi warga Aceh, bencana bukan hal baru, dan kemandirian dalam menghadapi musibah sudah menjadi kebiasaan lama. Ketika negara hadir terbatas, masyarakat memilih tidak larut dalam keluhan.

“Tidak apa-apa, kami sudah biasa. Kalau menunggu bantuan besar, air bisa kering duluan,” ujar seorang warga sambil membersihkan sisa lumpur di rumahnya, Sabtu (20/12/2025).

Pemerintah daerah bersama instansi terkait tetap melakukan penanganan dan pendataan di lapangan, namun di tingkat akar rumput, denyut utama penanganan banjir justru digerakkan oleh masyarakat sendiri. Relawan lokal, pemuda gampong, dan tokoh masyarakat menjadi barisan terdepan membantu korban.

Banjir kali ini kembali menunjukkan satu hal: ketika status nasional tidak disematkan, Aceh tetap berjalan. Tanpa banyak berharap, tanpa banyak menuntut, masyarakat memilih saling menopang. Sebab bagi warga Aceh, gotong royong bukan program, melainkan refleks.

Post a Comment

Previous Post Next Post